Senin, 05 Desember 2011

KEPEMIMPINAN DALAM KEPERAWATAN

Untuk memastikan bahwa staf keperawatan melaksanakan tugasnya dengan baik, manajer keperawatan harus mampu memimpin, meminta, meyakinkan, mendesak dan membujuk stafnya untuk melakukan apa yang seharusnya dikerjakan, tidak bergantung kepada kapan meraka mau melakukannya tetapi pada kapan klien dan rekan kerja memerlukan bantuan mereka, tidak berdasarkan atas kesukaan mereka tetapi pada apa yang seharusnya dilakukan demi tercapainya tujuan asuhan keperawatan.

Kepemimpinan dalam keperawatan merupakan penerapan pengaruh dan bimbingan yang ditujukan kepada semua staf keperawatan untuk menciptakan kepercayaan dan ketaatan sehingga timbul kesediaan melaksanakan tugas dalam rangka mencapai tujuan bersama secara efektif dan efisien.

A. PENGERTIAN KEPEMIMPINAN

Beberapa ahli mengungkapkan pengertian kepemimpinan sebagai berikut:

1. Kepemimpinan adalah kemampuan membuat seseorang mengerjakan apa yang tidak ingin mereka lakukan dan menyukainya (Truman, dikutip dari Gillies, 1996).

2. Kepemimpinan merupakan penggunaan keterampilan mempengaruhi orang lain untuk melaksanakan sesuatu dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuannya (Sullivan dan Decleur, 1989).

3. Kepemimpinan adalah serangkaian kegiatan untuk mempengaruhi anggota kelompok bergerak menuju pencapaian tujuan yang ditentukan (Baily, Lancoster dan Lancoster, 1989)

4. Kepemimpinan adalah sebuah hubungan dimana satu pihak memiliki kemampuan yang lebih besar untuk mempengaruhi perilaku pihak lain yang didasarkan pada perbedaan kekuasaan antara pihak-pihak tersebut (Gillies, 1996).

Berdasarkan berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa:

1. Kepemimpinan merupakan kemampuan mengarahkan, membimbing dan mempengaruhi perilaku orang lain.

2. Kepemimpinan diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi.

3. Kepemimpinan dapat berjalan bila ada perbedaan kekuasaan atau wewenang antara pemimpin dan anggota organisasi yang dipimpinnya.

B. TEORI KEPEMIMPINAN

1. Teori Bakat

Teori ini menyatakan bahwa seseorang dilahirkan dengan bakat pimpinan yang tidak dapat dipelajari. Kemampuan seorang pemimpin ditentukan oleh bakat, intelegensi, stabilitas emosi dan kebugaran fisik.

2. Teori Perilaku

Teori prilaku adalah teori yang menjelaskan bahwa suatu perilaku tertentu dapat membedakan pemimpin dan bukan pemimpin pada orang-orang. Konsep teori X dan Y dikemukakan oleh Douglas McGregor dalam buku The Human Side Enterprise di mana para manajer / pemimpin organisasi perusahaan memiliki dua jenis pandangan terhadap para pegawai / karyawan yaitu teori x atau teori y.

A. Teori X

Teori ini menyatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk pemalas yang tidak suka bekerja serta senang menghindar dari pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Pekerja memiliki ambisi yang kecil untuk mencapai tujuan perusahaan namun menginginkan balas jasa serta jaminan hidup yang tinggi. Dalam bekerja para pekerja harus terus diawasi, diancam serta diarahkan agar dapat bekerja sesuai dengan yang diinginkan perusahaan.

B. Teori Y

Teori ini memiliki anggapan bahwa kerja adalah kodrat manusia seperti halnya kegiatan sehari-hari lainnya. Pekerja tidak perlu terlalu diawasi dan diancam secara ketat karena mereka memiliki pengendalian serta pengerahan diri untuk bekerja sesuai tujuan perusahaan. Pekerja memiliki kemampuan kreativitas, imajinasi, kepandaian serta memahami tanggung jawab dan prestasi atas pencapaian tujuan kerja. Pekerja juga tidak harsus mengerahkan segala potensi diri yang dimiliki dalam bekerja.

Penelitian teori x dan y menghasilkan teori gaya kepemimpinan ohio state yang membagi kepemimpinan berdasarkan skala pertimbangan dan penciptaan struktur.

C. GAYA KEPEMIMPINAN

Gaya kepemimpinan dapat diartikan sebagai penampilan atau karakteristik khusus dari suatu bentuk kepemimpinan (Follet, 1940; dikutip dari Gillies, 1996). Ada 4 (empat) gaya kepemimpinan yang telah dikenal yaitu: otokratis, demokratis, partisipatif dan laissez faire (Gillies, 1996).

1. Gaya Kepemimpinan Otokratis:

Gaya kepemimpinan otokratis adalah gaya kepemimpinan yang menggunakan kekuatan jabatan dan kekuatan pribadi secara otoriter, melakukan sendiri semua perencanaan tujuan dan pembuatan keputusan dan memotivasi bawahan dengan cara paksaan, sanjungan, kesalahan dan penghargaan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2. Gaya Kepemimpinan Demokratis:

Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya seorang pemimpin yang menghargai karakteristik dan kemampuan yang dimiliki oleh setiap anggota organisasi. Pemimpin yang demokratis menggunakan kekuatan jabatan dan kekuatan pribadi untuk menggali dan mengolah gagasan bawahan dan memotivasi mereka untuk mencapai tujuan bersama.

3. Gaya Kepemimpinan Partisipatif:

Gaya kepemimpinan partisipatif adalah gabungan bersama antara gaya kepemimpinan otoriter dan demokratis dengan cara mengajukan masalah dan mengusulkan tindakan pemecahannya kemudian mengundang kritikan, usul dan saran bawahan. Dengan mempertimbangkan masukan tersebut, pimpinan selanjutnya menetapkan keputusan final tentang apa yang harus dilakukan bawahannya untuk memecahkan masalah yang ada.

4. Gaya Kepemimpinan Laisses Faire:

Gaya kepemimpinan laisses faire dapat diartikan sebagai gaya “membiarkan” bawahan melakukan sendiri apa yang ingin dilakukannya. Dalam hal ini, pemimpin melepaskan tanggung jawabnya, meninggalkan bawahan tanpa arah, supervisi atau koordinasi sehingga terpaksa mereka merencanakan, melakukan dan menilai pekerjaan yang menurut mereka tepat.

Selanjutnya dapat dikemukan bahwa keempat gaya kepemimpinan di atas memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Setiap gaya kepemimpinan bisa efektif dalam situasi tertentu tetapi tidak efektif dalam situasi lainya (Tannenbaum dan Schmit, 1973; dikutif dari Gillies, 1996). Faktor yang menetukan efektifitas gaya kepemimpinan secara situasional meliputi: kesulitan atau kompleksitas tugas yang diberikan, waktu yang tersedia untuk menyelesaikan tugas, ukuran unit organisasi, pola komunikasi dalam organisasi, latar belakang pendidikan dan pengalaman pegawai, kebutuhan pegawai dan kepribadian pemimpin (Gillies, 1996).

D. PEMIMPIN YANG EFEKTIF

Tidak ada gaya atau karakteristik kepemimpinan yang dapat dikatakan efektif tanpa mempertimbangkan situasi kultural, situasi kerja dan kebutuhan pekerja yang terus-menerus berubah dari waktu ke waktu. Karakteristik kepemimpinan yang efektif dikemukan oleh beberapa ahli sebagai berikut:

1. Fiedler (1977), dikutif dari Gillies (1996) menyatakan bahwa kepemimpinan dapat berjalan efektif bila:

1) Kepemimpinan berganti dari satu orang ke orang lain dan berganti dari satu gaya ke gaya lainnya seiring dengan terjadinya perubahan situasi kerja.

2) Pemimpin sebaiknya berasal dari anggota kelompok kerja, mengenal situasi kerja dan memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibanding anggota kelompok kerja lainnya.

2. Bennis menyatakan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang memenuhi karakteristik sebagai berikut:

1) Mempunyai pengetahuan yang luas dan kompleks tentang sistem manusia.

2) Menerapkan pengetahuan tentang pengembangan dan pembinaan bawahan.

3) Mempunyai kempuan menjalin hubungan antar manusia.

4) Mempunyai sekelompok nilai dan kemampuan yang memungkinkan untuk mengenal orang lain dengan baik.

3. Swanburg (1990) menyatakan bahwa karakteristik pemimpin yang efektif adalah sebagai berikut:

1) Intelegensi (pengetahuan, pendapat, keputusan, berbicara)

2) Kepribadian (mudah adaptasi, waspada, kreatif, kerjasama, integritas pribadi yang baik, keseimbangan emosi dan tidak ketergantungan kepada orang lain).

3) Kemapuan (bekerjasama, hubungan antar manusia dan partisipasi sosial).

E. HUBUNGAN KEPEMIMPINAN DAN KEKUASAAN

Kepemimpinan dan kekuasaan adalah dua hal yang berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya. Kepemimpinan dapat dijalankan hanya bila pada diri pemimpin terdapat kekuasaan karena jabatan yang diembannya dan penerimaan atau pengakuan bawahan atas perannya sebagai pemimpin (Gillies, 1996).

Kekuasaan seorang pemimpin dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Reward power atau kekuasaan memberikan penghargaan terhadap bawahan baik berupa insentif material, memenuhi permintaan rotasi tugas atau kesempatan untuk mengikuti program pengembangan staf.

2. Coecieve power atau kekuasaan untuk menerapkan perintah atau hukuman secara paksa kepada bawahan berupa penurunan atau penundaan kenaikan pangkat, skorsing maupun pemecatan.

3. Referent power merupakan kemampuanan untuk menjadi panutan bawahan sehingga dapat menimbulkan kebanggaan dan upaya bawahan untuk mengidentifikasikan diri sesuai dengan pemimpinnya.

4. Expert power merupakan kemampuan untuk meyakinkan, membimbing dan mengarahkan bawahan berdasarkan keahlian yang dimiliki seorang pemimpin.
Ruang lingkup atau batasan kekuasaan yang secara tegas ditentukan dalam jabatan tertentu dapat disebut wewenang.

F. PENERAPAN KEPEMIMPINAN DALAM KEPERAWATAN

Pemberian pelayanan dan asuhan keperawatan merupakan suatu kegiatan yang kompleks dan melibatkan berbagai individu. Agar tujuan keperawatan tercapai diperlukan berbagai kegiatan dalam menerapkan keterampilan kepemimpinan. Menurut Kron (1981), kegiatan tersebut meliputi :

1. Perencanaan dan Pengorganisasian

Pekerjaan dalam suatu ruangan hendaknya direncakan dan diorganisasikan. Semua kegiatan dikoordinasikan sehingga dapat dikerjakan pada waktu yang tepat dan dengan cara yang benar. Sebagai seorang kepala ruangan perlu membuat suatu perencanaan kegiatan di ruangan.

2. Membuat Penugasan dan Memberi Penghargaan

Setelah membuat penugasan, perlu diberikan pengarahan kepada para perawat tentang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan secara singkat dan jelas. Dalam memberi pengarahan, seorang pemimpin harus mampu membaut seseorang memahami apa yang diarahkan dan juga mempunyai tanggung jawab untuk melihat apakah pekerjaan tersebut dikerjakan dengan benar. Untuk ini diperlukan kemampuan dalam hubungan antar manusia dan teknik-teknik keperawatan.

3. Pemberian bimbingan

Bimbingan merupakan unsur yang poenting dalam keperawatan. Bimbingan berarti menunjukkan cara menggunakan berbagai metoda mengajar dan konseling. Bimbingan yang diberikan meliputi pengetahuan dan keterampilan dalam keperawatan. Hal ini akan membantu bawahan dalam melakukan tugas mereka sehingga dapat memberikan kepuasan bagi perawat dan klien.

4. Medorong Kerjasama dan Partisipasi

Kerjasama diantara perawat perlu ditingkatkan dalam melaksanakan keperawatan. Seorang pemimpin perlu mennyadari bahwa bawahan bekerjasama dengan pemimpin bukan untuk atau dibawah pimpinan. Kerjasama dapat ditingakatkan melalui suasana demokrasi dimana setiap individu/perawat mengetahui apa yang diharapkan dari mereka, dan mereka mendapat pujian serta kritik yang membangun. Bawahan perlu mengetahui bahwa pemimpin mempercayai kemampuan mereka. Hubungan antar manusia yanng baik dapat meningkatkan kerjasama. Disamping itu setiap individu dalam kelompok diusahakan untuk berpartisipasi. Hal ini akan membuat setiap perawat merasa dihargai termasuk bagi mereka yang sering menarik diri atau yang pasif. Partisipasi setiap perawat dapat berbeda-beda, tergantung kemampuan mereka.

5. Kegiatan Koordinasi

Pengkoordinasian kegiatan dalam suatu ruangan merupakan bagian yang penting dalam kepemimpinan keperawatan. Seorang pemimpin perlu mengusahakan agar setiap perawat mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam suatu ruangan. Hal lain yang perlu dilakukan adalah melaporkan kepada atasan langsung tentang pencapaian kerja bawahan. Agar dapat melakukan koordinasi dengan efektif, diperlukan suatu perencanaan yang baik dan penggunaan kemampuan setiap individu dan sumber-sumber yang ada.

6. Evaluasi Hasil Penampilan Kerja

Evaluasi hasil penampilan kerja dilakukan melalui pengamatan terhadap staf dan pekereaan mereka. Evaluasi merupakan proses berkelanjutan untuk menganalisa kekurangan dan kelebihan staf sehingga dapat mendorong mereka mempertahankan pekerjaan yang baik dan memperbaiki kekuranngan yanng ada. Agar seorang pemimpin dapat menganalisa perawat lain secara efektif, ia juga harus dapat menilai diri sendiri sebagai seorang perawat dan seorang pemimpin secara jujur.

Melalui kegiatan-kegiatan ini diharapkan seorang kepala ruangan dapat melakukan tanggungjawabnya sebagai manajer dan pemimpin yang efektif. Dalam melaksanakan pelayanan dan asuhan keperawatan, kepala ruangan sebagai seorang pemimpin bertanggungjawab dalam :

a. Membantu perawat lain mencapai tujuan yang ditentukan

b. Mengarahkan kegiatan-kegiatan keperawatan

c. Tanggungjawab atas tindakan keperawatan yang dilakukan

d. Pelaksanaan keperawatan berdasarkan standar

e. Penyelesaian pekerjaan dengan benar

f. Pencapaian tujuan keperawatan

g. Kesejahteraan bawahan

h. Memotivasi bawahan

DAFTAR PUSTAKA

www.asuhankeperawatan.com

www.pdpersi.co.id

www.organisasi.org

www.wikipedia.com

PROSES KEPERAWATAN

Pengkajian adalah Tahap awal dari proskep.

Proses sistematis dalam pengumpulan data dasar utama dalam memberikan Asuhan Keperawatan

Pengkajian

• Lengkap

• Akurat

• Sesuai dengan kenyataan

• Kebenaran data sangat penting dalam merumuskan Dx.Kep.

Prinsip pelaksanaan dalam pengkajian :

Ø Pengkajian dilaksanakan 1 x 24 Jam

Ø Kelengkapan dalam proses pelaksanaan pengkajian.

* Identitas pasien harus diisi lengkap

* Mengkaji pasien yang lebih diutamakan adalah pengkajian yang isesuaikan dengan Dx. Medis ( Persistem ).

Contoh disesuaikan dengan diagnosa medis

1. Dyspepsi: Sistem pencernaan

2. Gangguan Pernapasan: Sistem respiratori

3. Gangguan Otot dan Tulang: Sistem Muskuloskeletal

4. Gangguan Mobilitas: Ekstremitas

5. Gangguan integritas: Sistem integumen

Contoh disesuaikan dengan bagian spesialisnya

1. THT : Sistem penghidu,pendengaran,telinga.

2. Urologi : Sistem urologi

Data dasar

1. Sumber data diceklis dan diberi keterangan bila data didapat dari orang lain/bukan klien

2. Keluhan utama : keluhan yang paling dirasakan klien saat dikaji, data berupa data subjektif

3. Riwayat penyakit sekarang adalah alasan klien masuk RS sekarang.

4. contoh : Sejak hari…. Klien mengeluh…..,…,dst.

Pemeriksaan fisik

1. TTV : wajib diisi dan diceklis sesuai dengan keterangan yang ada dibawahnya (ex. Suhu 37oC – diambil secara axila)

2. Sistem respiratory : sesuai data yang didapat

3. Sistem kardiovaskuler : sesuai data yang didapat

4. Sistem integumen : Pada klien dengan luka sertakan keterangan tentang luka seperti lokasi, grade, eksudat, bau

5. Sistem neurologi :pada sisitem neurologis sertakan hasil SKG dari kesadaran, dikaji keadaan umum dan kelainan yang didapat

6. Sistem muskuloskeletal : diisi pada klien dengan gangguan muskuloskeletal atau pasien ortopedi

7. Sistem sensorik :

a. penglihatan : diisi sesuai data yang didapat

b. Pendengaran : wajib diisi untuk klien THT

c. Penghidu : Wajib diisi untuk klien THT

d. Pengecapan : diisi sesuai data yang didapat

e. Leher : diisi sesuai data yang didapat

8. Abdomen : diisi sesuai data yang didapat

9. Sistem Reproduksi : diisi sesuai data yang didapat


Kebutuha Dasar

1. BB dan TB harus diisi

2. Nutrisi : Diisi dengan data sebelum klien di RS (sebagai perbandingan)

3. Eliminasi : sesuai pola dan kelainan yang didapat

4. Pola Aktivitas dan istirahat : berdasarkan kuantitas dan kualitas

5. Pola merawat diri : dinilai dari ketergantungannya

6. Pola kebiasaan : dinilai dari kebiasaan sehari-hari

Data Psikososial

Data Spiritual

Data Penunjang

Diagnosa

v Antara masalah dan etiologi disesuaikan dengan diagnosa dokter;

Contoh : Hipertermi b.d Viremia à untuk panas yang disebabkan oleh virus

v Kriteria waktu tiap diagnosa diperlukan penelitian dari masing – masing ruangan.

v Jika ada diagnosa yang berubah dari risti menjadi aktual atau sebaliknya maka diagnosa, kritteria dan renpra tersebut dapat dimodifikasi.

v Jika massalah sudah teratasi ditulis stop pada kolo yang telah disediakan.

Catatan keperawatan

v Standar Penulisan Caper

1. Sesuai dengan rencana tindakan yang diceklis

2. Rutinitas tidak usah ditulis

3. Dokumentasi tidak boleh ditip-x

v Intrksi dari dokter tiddak usah ditulis lagi

v BLPL bisa ditulis dicaper

v Perkembangan pasen gawat harus dicatat.

v Transfusi boleh dicatat

SOAP

v Ditulis sesuai dengan diagnosa keperawatan

v Untuk analissa berorientasi pada HYD, tidak lagi memakai “ masalah teratasi sebagian”

PROSES KEPERAWATAN

Adalah metode pengorganisasian yang sistematis dalam melakukan asuhan keperawatan pada individu kelompok dan masyarakat yang berfokus pada identifikasi dari pemecahan masalah dari respon pasien terhadap penyakitnya. Proses keperawatan digunakan untuk membantu perawat melakukan praktik keperawatan secara sistematis dalam memecahkan masalah keperawatan

MANFAAT PROSES KEPERAWATAN

· Perawat dapat merencanakan asuhan keperawatan dan membantu mengembangkannya melalui hubungan profesional

· Memberikan kepuasan bagi pasien dan perawat

· Memberikan kerangka kerja bagi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan

· Membuat perawat mawas diri dalam keahlian dan kemampuan merawat pasien

LANGKAH-LANGKAH PROSES KEPERAWATAN

Dalam proses keperawatan ada lima tahap, dimana tahap-tahap tersebut tidak dapat dipisahkan, dan saling berhubungan. Yang secara bersama sama membentuk lingkaran pemikiran dan tindakan yang kontinu, yang mengulang kembali kontak dengan pasien

1. Pengkajian

2. Diagnosa keperawatan

3. Perencanaan

4. Pelaksanaan

5. Evaluasi

PENGKAJIAN

· Mengumpulkan data secara sistematis

· Memilah dan mengatur data yang dikumpulkan

· Mendokumentasikan data dalam format

Pengkajian harus menggambarkan 2 hal:

1. Status kesehatan pasien

2. Kekuatan pasien dan masalah kesehatan yang dialami (aktual atau resiko/potensial)

KLASIFIKASI DATA

1. Data subjektif: merupakan ungkapan atau persepsi yang dikemukakan oleh pasien

2. Data objektif: merupakan data yang didapat dari hasil observasi, pengukuran, dan pemeriksaan fisik

PENGELOMPOKAN DATA

· Berdasarkan sistem tubuh

· Berdasarkan kebutuhan dasar (maslow)

· Berdasarkan teori keperawatan

· Berdasarkan pola kesehatan fungsional

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Adalah pernyataan yang jelas mengenai status kesehatan atau masalah aktual atau resiko dalam rangka mengidentifikasi dan menentukan intervensi keperawatan untuk mengurangi, menghilangkan, atau mencegah masalah kesehatan klien yang ada pada tanggung jawabnya

(Carpenito, 1983)

TUJUAN DIAGNOSA KEPERAWATAN

· Memberikan bahasa yang umum bagi perawat sehingga jalinan informasi dalam persamaan persepsi dapat terjadi

· Meningkatkan identifikasi tujuan yang tepat sehingga pemilihan intervensi lebih akurat dan menjadi pedoman dalam melakukan evaluasi

· Menciptakan standart praktik keperawatan

· Memberikan dasar peningkatan kualitas pelayanan keperawatan

DIAGNOSA DILIHAT DARI STATUS KESEHATAN PASIEN

· Aktual:Menggambarkan penilaian klinik yang harus divalidasi perawat karena adanya batasan karakteristik mayor

Ex: Ketidak efektifan jalan nafas b.d akumulasi sekret/slem

· Potensial: Menggambarkan kondisi pasien kearah yang lebih positif (kekuatan pasien)

Ex: Peningkatan status kesehatan pasien b.d intake nutrisi yang adekuat, pasien kooperatif

· Risiko: Menggambarkan kondisi klinis individu lebih rentan mengalami masalah.

Ex: Risiko infeksi b.d efek pembedahan

· Kemungkinan: Menggambarkan kondisi klinis individu yang memerlukan data tambahan sebagai faktor pendukung yang lebih akurat

Ex: Kemungkinan gangguang body image yang b.d operasi apendiks.

PERENCANAAN

1. Menentukan prioritas masalah

– Berdasarkan Hirearki Maslow yaitu, fisiologis, keamanan/keselamatan, mencintai dan memiliki, harga diri dan aktualisasi diri

– Berdasarkan Griffith-Kenney Christensen dengan urutan:

• Ancaman kehidupan dan kesehatan

• Sumber daya dan dana yang tersedia

• Peran serta klien

• Prinsip ilmiah dan praktik keperawatan

2. Menentukan Tujuan

Dalam menentukan tujuan digambarkan kondisi yang diharapkan disertai jangka waktu

3. Menentukan Kriteria Hasil

– Bersifat spesifik dalam hal isi dan waktu mis: Pasien dapat menghabiskan 1 porsi makanan selama 3 hari post operasi

– Bersifat realistik artinya dalam menentukan tujuan harus dipertimbangkan faktor fisiologis/patologis penyakit yang dialami dan sumber yang tersedia serta waktu pencapaian

– Dapat diukur

– Mempertimbangkan keadaan dan keinginan pasien

4. Merumuskan intervensi dan aktifitas perawatan

IMPLEMENTASI

· Tindakan mandiri

Adalah aktifitas perawat yang didasarkan pada kesimpulan atau keputusan sendiri dan bukan merupakan petunjuk atau perintah dari petugas kesehatan lain.

· Tindakan kolaborasi

Adalah tindakan yang didasarkan hasil keputusan bersama seperti dokter dan petugas kesehatan lain.

BENTUK IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

1. Bentuk perawatan, pengkajian untuk mengidentifikasi masalah baru atau mempertahankan masalah yang ada

2. Pendidikan kesehatan pada pasien untuk membantu menambah pengetahuan tentang kesehatan

3. Konseling pasien untuk memutuskan kesehatan pasien

4. Konsultasi dengan tenaga profesional kesehatan lainnya sebagai bentuk perawatan holistik

5. Bentuk penatalaksanaan secara spesifik atau tindakan untuk memecahkan masalah kesehatan

6. Membantu pasien dalam melakukan aktivitas sendiri

EVALUASI

Tujuan: Untuk mengetahui sejauh mana tujuan perawatan dapat dicapai dan memberikan feedback terhadap asuhan keperawatan yang diberikan

Langkah-langkah Evaluasi

1. Daftar tujuan-tujuan pasien

2. Lakukan pengkajian apakah pasien dapat melakukan sesuatu

3. Bandingkan antara tujuan dan kemampuan pasien

4. Diskusikan dengan pasien, apakah tujuan dapat tercapai atau tidak

Jika tujuan tidak tercapai, maka perlu dikaji ulang letak kesalahannya, dicari jalan keluarnya, kemudian catat apa yang ditemukan, serta apakah perlu dilakukan perubahan intervensi

E K G

Pemasangan elektroda

Merah = lengan kanan

Kuning = lengan kiri

Hijau = tungkai kanan

Hitam = tungkai kiri

PEMBACAAN HASIL EKG

0 kotak kecil = 0,04 detik

laju QRS frekuensi 60 – 100 x mnt, kurang dari 60= bradikardi,

lebih dari 60 = takikardi

GELOMBANG NORMAL

P = Tegak (+), di I,II, Av1, V2-6 dan terbalik di Av1, mungkin terbalik di III, Av1,v1

Q = q kecil di I, II, AVF, V4-6, durasi 0,03 detik tinggi ¼ R,ukuran bervariasi di AVR

= Q besar dengan durasi 0,4 detik di III, abnormal di AVF dan III ( harus diagnosa), Q besar di AVL normal

QS = Semua negative kecuali di V1-2

R = Terbesar di I, V4-6

S = S dominant di V1-3, keciol dan progresif di V3-6,S mungkin ditemukan di I,II

T = Tegak di I,II, AVF, V2-6 terbalik di AVR, mungkin terbalik di III, AVL,V1

U = Tidak terlihat, sering terlihat terbalik di V2-4

GELOMBANG EKG PATOLOGI

· HYPERTROPI ATRIUM KIRI = P lebar, tegak dan bertakik di V4-6

· HYPERTROPI ATRIUM KANAN = P tinggi > 2,5 mm, runcing di II,III, AVF

· HYPERTROPI VENTRIKEL KIRI = R(I) dan S(III) . 2,6 mm, R pada AVL > 11 mm, R pada V1-5 > 52,6 mm, S pada V1+R pada V5 atau V6>3,5 mm, depresi ST, inverse 1, interval QRS antara 0,1 – 0,12

· HYPERTROPI VENTRIKEL KANAN = R tinggi di V1 > 5 mm,R:s pada V1>1mm, depresi ST, T terbalik pasa V1-3

· ISKEMIA MIOKARD = depresi ST . 1mm, horizontal dan menurun

· INFARK MIOKARD = elevasi ST > 1mm, T besar dan tegak lurus, setelah 1-3 hari T terbalik dan timbul Q yang abnormal yang menandakan infark transient, durasi Q <0,04>

Anterior kealinan di sandapan V2-4

Inferior kealinan di AVF

Lateral kelainan pada I, V6

Posterior kelainan jika R yang tinggi, T tegak pada V1-2

· PERIKARIDTIS = elevasi ST di semua sadapan kecuali AVR,AVL,V1,V2 dan T terbalik

· HIPERKALEMIA = T tinggi ramping dan runcing, P hilang, QRS melebar, takikardi ventrikel

· HYPOKALEMIA = depresi ST, T rendah, U besar di V2-4, U:T rasio > 1,0 mm

· HYPERKALSEMIA = interval Q-T memendek, T terdapat pada akhir QRS

· HYPOKALSEMIA = ST,QT memanjang

Petunjuk Pemasangan EKG